Minggu, 04 November 2012

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak” ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, itu dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas. Namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, akhirnya pembuatan makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Penulis berharap dengan penulisan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca umumnya serta semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan dan meningkatkan prestasi di masa yang akan datang

                                                                                    Singaraja, Maret 2012
                       
                                                                                                Kelompok  1






DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………….........….. i
Daftar Isi …………………………………………………….......………..…...… ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang………………………………………………………….1
1.2    Rumusan Masalah …………...………………………………….…….. 2
1.3    Tujuan ................................…………….……………..………….…..... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1      Fase-fase Perkembangan ………………………………………..……. 3
2.1.1        Periodisasi yang Berdasar Biologis………………………....…3
2.1.2        Periodisasi yang Berdasar Psikologis……………………….…3
2.1.3        Periodisasi yang Berdasar Didaktis……………………..…..…4
2.2      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan………….................6
2.2.1        Faktor Genetik………………………………………………...7
2.2.2        Faktor Lingkungan…………………………………………….7
2.3      Teori-teori Terkait Perkembangan Anak……………………………...11
2.3.1        Aliran Nativisme…………………………………………...…12
2.3.2        Aliran Empirisme……………………………………………..13
2.3.3        Aliran Konvergensi………………………………………...…15
BAB III  PENUTUP 
3.1 Simpulan .................................................................................................17
3.2 Saran .......................................................................................................18
Daftar Pustaka


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Perkembangan adalah perubahan yang progesif dan kontinyu (berkesimnambungan) dalam diri individu mulai lahir sampai mati. Perkembangan  merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan dari segi materiil, melainkan pada segi fungsional. Perubahan suatu fungsi adalah disebabkan oleh pertumbuhan materiil yang memungkinkan adanya itu, disebabkan oleh karena perubahan tingkah laku hasil belajar.
            Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan prilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis didalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan hidup manusia ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang harus tempuh.
            Apabila kita ingin mempelajari tentang perkembangan manusia pada umumnya maka kita akan berhadapan dengan berbagai aspek ilmu pengetahuan yakni ilmu pengetahuan tentang perkembangan biologis dari proses terjadinya pembuahan, proses kelahiran, proses pertumbuhan biologis yang sehat dan sempurna, sampai terjadinya proses penuaan dan kematian seseorang. Sedangkan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perkembangan psikologis juga terdiri dari berbagai aspek seperti tentang pengaruh psikologis ibu yang lagi hamil, factor-faktor yang mempengaruhi perkembangna psikologi setelah dia lahir, menjadi anak remaja., dewasa dan setelah berkeluarga sampai pada hubungan kemasyarakatan dan seterusnya sampai meninggal dunia masih pula memiliki pengaruh psikologi terhadap yang masih hidup. Itulah yang merupakan hakekat perkembangan biologis dan psikologis setiap orang. 

1.2  Rumusan Masalah
1.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan individu?
2.      Bagaimanakah teori psikologis memandang faktor-faktor perkembangan anak?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu.
2.      Mengetahui pandangan teori psikologis terhadap perkembangan anak.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Fase-fase Perkembangan
            Sebelum membahas faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu, terlebih dahulu kita akan membahas tentang fase-fase perkembangan individu itu sendiri. Dalam perkembangan individu terdapat beberapa fase, fase-fase tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:

2.1.1        Periodisasi yang berdasar biologis.
            Periodisasi atau pembagian masa-masa perkembangan ini didasarkan kepada keadaan atau proses biologis tertentu. Pembagian Aristoteles didasarkan atas gejala pertumbuhan jasmani yaitu antara fase satu dan fase kedua dibatasi oleh pergantian gigi, antara fase kedua dengan fase ketiga ditandai dengan mulai bekerjanya kelenjar kelengkapan kelamin.

2.1.2         Periodisasi yang berdasar psikologis.
            Tokoh utama yang mendasarkan periodisasi ini kepada keadaan psikologis ialah Oswald Kroch. Beliau menjadikan masa-masa kegoncangan sebagai dasar pembagian masa-masa perkembangan, karena beliau yakin bahwa masa kegoncangan inilah yang merupakan keadaan psikologis yang khas dan dialami oleh setiap anak dalam masa perkembangannya.

2.1.3         Periodisasi yang berdasar didaktis.
            Pembagian masa-masa perkembangan sekarang ini seperti yang dikemukakan oleh Harvey A. Tilker, PhD dalam “Developmental Psycology to day”(1975) dan Elizabeth B. Hurlock dalam “Developmental Psycology”(1980) tampak sudah lengkap mencakup sepanjang hidup manusia sesuai dengan hakikat perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi sampai mati dengan pembagian periodisasinya sebagai berikut:

A.    Masa Sebelum lahir (Prenatal Period)
            Masa ini berlangsung sejak terjadinya konsepsi atau pertemuan sel bapak-ibu sampai lahir kira-kira 9 bulan 10 hari atau 280 hari. Masa sebelu lahir ini terbagi dalam 3 priode yaitu:
1.   Periode telur/zygote, yang berlangsung sejak pembuahan sampai akhir minggu kedua.
2.    Periode Embrio, dari akhir minggu kedua sampai akhir bulan kedua.
3.    Periode Janin(fetus), dari akhir bulan kedua sampai bayi lahir.
4.   Masa Bayi Baru Lahir (New Born). Masa ini dimulai dari sejak bayi lahir sampai bayi berumur kira-kira 10 atau 15 hari. Dalam perkembangan manusia masa ini merupakan fase pemberhentian (Plateau stage) artinya masa tidak terjadi pertumbuhan/perkembangan.

B.  Masa Bayi (Babyhood).
            Masa ini dimulai dari umur 2 minggu sampai umur 2 tahun.Masa bayi ini dianggap sebagai periode kritis dalam perkembangan kepribadian karena
merupakan periode di mana dasar-dasar untuk kepribadian dewasa pada masa ini
diletakkan.

C.     Masa Kanak-kanak Awal (Early Chilhood).
            Awal masa kanak-kanak berlangsung dari dua sampai enam tahun. Masa ini dikatakan usia pra kelompok karena pada masa ini anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untukpenyesuaian diri pada waktu masuk kelas 1 SD.

D.     Masa Kanak-kanak Akhir (Later Chilhood).
            Akhir masa kanak-kanak atau masa anak sekolah ini berlangsung dari umur 6 tahun sampai umur 12 tahun. Selanjutnya Kohnstam menamakan masa kanak-kanak akhir atau masa anak sekolah ini dengan masa intelektual, dimana anak-anak telah siap untuk mendapatkan pendidikan di sekolah dan perkembangannya berpusat pada aspek intelek. Adapun Erikson menekankan masa ini sebagai masa timbulnya “sense of accomplishment” di mana anak-anak pada masa ini merasa siap untuk enerima tuntutan yang dapat timbul dari orang lain dan melaksanakan/menyelesaikan tuntutan itu. Kondisi inilah kiranya yang menjadikan anak-anak masa ini memasuki masa keserasian untuk bersekolah.

E.     Masa Puber (Puberty).
            Masa Puber merupakan periode yang tumpang tindih Karena mencakup tahun-tahun akhir masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remaja. Yaitu umur 11,0 atau 12,0 sampai umur 15,0 atau 16,0. Kriteria yang sering digunakan untuk menentukan permulaan masa puber adalah haid yang pertama kali pada anak perempuan dan basah malam pada anak laki-laki. Ada empat perubahan tubuh yang utama pada masa puber, yaitu:
1)      Perubahan besarnya tubuh.
2)      Perubahan proporsi tubuh.
3)      Pertumbuhan ciri-ciri seks primer.
4)      Perubahan pada ciri-ciri seks sekunder.

F.      Masa Dewasa Awal (Early Adulthood).
            Masa dewasa adalah periode yang paling penting dalam masa khidupan, masa ini dibagi dalam 3 periode yaitu: Masa dewasa awal dari umur 21,0 sampai umur 40,0. Masa dewasa pertengahan, dari umur 40,0 sampai umur 60,0. dan masa akhir atau usia lanjut, dari umur 60,0 sampai mati. Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas san
penyesuaian diri pada pola hidup yang baru.

G.    Masa Dewasa madya ( Middle Adulthood).
            Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai umur enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial pada masa ini antara lain:
1.      Masa dewasa madya merupakan periode yang ditakuti dilihat dari seluruh kehidupan manusia.
2.      Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru.
3.      Masa dewasa madya adalah masa berprestasi. Menurut Erikson, selama usia madya ini orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti (stagnasi).
4.      Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.

H.    Masa Usia Lanjut ( Later Adulthood).
            Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dri umur enam puluh tahun sampai mati, yang di tandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.


2.2  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
             Pola perkembangan dapat dipengaruhi oleh keadaan atau kondisi di dalam diri si anak itu sendiri, ataupun oleh keadaan atau kondisi di luar si anak. Perkembangan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, melainkan dari banyak faktor yang saling berhubungan dan saling bergantung. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan individu :
2.2.1         Faktor Genetik
            Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir  proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang menjadi ciri khasnya. Melalui genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.

2.2.2        Faktor Lingkungan
            Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan lingkungan ”bio-fisiko-psiko-sosial” yang memepengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi :
a.       Faktor yang memepengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (faktor pranatal)
b.      Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal)
A.    Faktor Lingkungan Pranatal
            Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir, antara lain :
1.      Gizi ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR/lahir mati, menyebabkan cacat bawaan, hambatan pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir,bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus dan sebagainya.
2.      Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin dalam uterus dapat kelainan bawaan, talipes, dislokasi panggul, tortikolis kongenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.
3.      Toksin/zat kimia
Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi antara lain obat anti kanker, rokok, alkohol beserta logam berat lainnya.
4.      Endokrin
Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somatotropin, tiroid, insulin, hormon plasenta, peptida-peptida lainnya dengan aktivitas mirip insulin. Apabila salah satu dari hormon tersebut mengalami defisiensi maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan  susunan saraf pusat sehingga terjadi retardasi mental, cacat bawaan dan lain-lain.
5.      Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki dapat menyebabkan cacat bawaan pada anaknya.
6.       Infeksi
Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH, sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, polio, influenza dan lain-lain.
7.      Stres
Stres yang dialami oleh ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.
8.      Imunitas
Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.
9.      Anoksia embrio
Menurunnya oksigenisasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan BBLR.
B.     Faktor Lingkungan Postnatal
            Bayi baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari suatu sistem yang teratur yang sebagian besar tergantung pada organ-organ ibunya,ke suatu sistem yang tergantung pada kemempuan genetik dan mekanisme homeostatik bayi itu sendiri. Lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan menjadi :
  1. Lingkungan biologis
Lingkungan biologis yang dimaksud adalah ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi,, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormon.
  1. Faktor fisik
Yang termasuk dalam faktor fisik itu antara lain yaitu cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah baik dari struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian, serta radiasi.
  1. Faktor psikososial
Stimulasi merupakan hal penting dalam tumbuh kembang anak, selain itu motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar merupakan hal yang dapat menimbulkan motivasi yang kuat dalam perkembangan kepribadian anak kelak di kemudian hari, Dalam proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya, stres juga sangat berpengaruh terhadap anak, selain sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anak orangtua dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.
  1. Faktor keluarga dan adat istiadat
Faktor keluarga yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu pekerjaan/pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder, pendidikan ayah/ibu yang baik dapat menerima informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan, dan pendidikan yang baik pula, jumlah saudara yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak, jenis kelamin dalam keluarga seperti apad masyarakat tradisonal masih banyak wanita yang mengalami malnutrisi sehingga dapat menyebabkan angka kematian bayi meningkat, stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah/ibu, adat-istiadat, norma-norma, tabu-tabu, agama, urbanisasi yang banyak menyebabkan kemiskinan dengan segala permasalahannya, serta kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran dan lain-lain.

2.3  Teori-Teori Terkait Perkembangan Anak
            Sebenarnya, sudah beberapa abad lalu para ilmuwan dan para pemikir memperhatikan seluk-beluk kehidupan anak, khususnya dari sudut perkembangannya, untuk memengaruhi berbagai proses perkembangan, mencapai kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup yang didambakan. Anak harus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang matang, yang sanggup dan mampu mengurus dirinya sendiri, dan tidak selalu bergantung pada orang lain, atau bahkan menimbulkan masalah bagi keluarga, kelompok, atau masyarakat. Sejak abad pertengahan, aspek moral dan pendidikan keagamaan, menjadi pusat perhatian dan menjadi tujuan umum dari pendidikan. Pandangan terhadap anak sebagai pribadi yang masih murni, jauh dari unsur-unsur yang mendorong anak pada perbuatan-perbuatan yang tergolong dosa dan tidak bermoral, banyak dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas keagamaan. Para tokoh agama dan kaum cendikiawan tentang masalah kemanusiaan, banyak mendorong dan mempengaruhi para orang tua untuk memperlakukan anak secara berbeda dengan orang dewasa. Para teolog, dokter, filsuf, dan ahli pendidikan memberikan pandangan mengenai anak dan latar belakang perkembanganya, serta pengaruh-pengaruh keturunan dan lingkungan hidup teerhadap kejiwaan anak.
            Memasuki akhir abad ke-17, seorang filsuf bernama John Locke mengemukakan bahwa pengalaman dan pendidikan merupakan faktor yang paling menentukan dalam perkembangan kepribadian anak. Meskipun dewasa ini sudah menjadi keyakinan umum bahwa setiap anak manusia perlu mendapatkan pendidikan, sekedar untuk menjadi bahan perbandingan, di sini dikemukakan teori-teori yang memberikan berbagai pandangan, baik yang menolak maupun yang menerima adanya pengaruh pendidikan tersebut. Telah sekian lama para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi, dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan: sebetulnya, perkembangan manusia itu bergantung pada pembawaan ataukah pada lingkungan? Atau dengan kata lain, dalam perkembangan anak hingga menjadi dewasa, faktor-faktor yang mempengaruhi itu, yang dibawa dari keturunan (hereditas) ataukah pengaruh lingkungan? Dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, perlu dikemukakan di sini andanya beberapa pendapat dari berbagai aliran.

2.3.1        Aliran Nativisme
            Nativisme merupakan kata dasar dari bahasa Latin, natus yang artinya lahir atau nativus yang mempunyai arti kelahiran, pembawaan. Nativisme (nativism) merupakan sebuah doktrin yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filosof Jerman. Aliran filsafat nativisme konon dijuluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan “kacamata hitam.” Mengapa begitu? Karena para ahli penganut aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaannya. Aliran nativisme mengemukakan bahwa manusia yang baru dilahirkan telah memiliki bakat dan pembawaan, baik karena berasal dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun karena memang ditakdirkan demikian. Manakala pembawaannya itu baik, baik pula anak itu kelak. Begitu pula sebaliknya, andaikata anak itu berpembawaan buruk, buruk pula pada masa pendewasaannya. Oleh karena itu, menurut aliran ini, pendidikan tidak dapat diubah dan senantiasa berkembang dengan sendirinya. Pendidikan, pengalaman atau segala pengaruh dari luar dianggap tak berdaya mengubah kekuatan-kekuatan yang dibawa sejak lahir atau pembawaan, dengan kata lain, yakni tidak berpengaruh apa-apa.
            Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti ini disebut “pesimisme pedagogis”. Aliran ini disebut pula dengan Biologisme, karena mementingkan kehidupan individu saja, tanpa memperhatikan pengaruh-pengaruh dari luar. Di samping itu, aliran ini juga disebut dengan Negativisme, karena serba menafikan atau menegatifkan segala yang datang dari luar. Meskipun teori ini dikatakan sebagai teori kuno, pengaruhnya sangat besar sampai abad modern ini. Dan ini, menurut beberapa literatur, ternyata dimulai dari seseorang penulis kurang kebih tahun 1900, Ellen Key, dalam bukunya De Eeuw van Het Kind (abad anak), yang menulis, antara lain, bahwa “Bapak ataupun Ibu tidak boleh memberikan peraturan kepada si anak, seperti juga mereka tidak berkah berkuasa mengubah peredaran bintang.” Sekolah, dikatakannya, tidak lain daripada pembunuhan jiwa anak yang mencekik pelik selaki pada sesuatu yang berharga bagi seseorang anak, yaitu kepribadiannya. Jean Jacques Rousseau (1712-1778), seorang filsuf Prancis, berpendapat bahwa semua orang ketika dilahirkan mempunyai dasar-dasar moral yang baik. Rousseau mempergunakan istilah “Noble Savage” untuk menerangkan segi-segi moral ini, yakni hal-hal mengenai baik atau buruk, benar atau salah, sebagai potensi pada anak dari kelahirannya. Pandangan Rousseau menjadi titik tolak dari pandangan yang menitikberatkan faktor dunia dalam atau faktor keturunan sebagai factor yang penting terhadap isi kejiwaan dan gambaran kepribadiaan seseorang. Karakteristik yang diperlihatkan seseorang bersifat intrinsik, dan karena itu, pandangan Rousseau digolongkan pada pandangan yang beraliran nativisme.
2.3.2        Aliran Empirisme
            Aliran empirisme merupakan kebalikan dari aliran nativisme, dengan contoh utama John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah “The school of British Empiricism” (aliran empirisme Inggris). Akan tetapi aliran ini lebih berpengaruh pada para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filsafat bernama “environmentalisme” (aliran lingkungan) dan psikolog bernama “environmental psychology” (psikolog lingkungan) yang relatif masih baru. Aliran empirisme mengemukakan bahwa anak yang baru lahir laksana kertas kosong (blank slate/black table) yang putih bersih atau semacam tabula rasa (tabula = meja, rasa = lilin), yaitu meja yang bertutup lapisan lilin. Kertas putih bersih dapat ditulis dengan tinta warna apa pun, dan warna tulisannya akan sama dengan warna tinta tersebut. Begitu juga halnya dengan meja yang berlilin, dapat dicat dengan berwarna-warni, sebelum ditempelkan. anak diumpamakan bagaikan kertas putih yang bersih, sedangakan warna tinta, diumpamakan sebagai lingkungan (pendidikan) yang akan memberi pengaruh padanya, sudah pasti tidak mungkin tidak, pendidikan dapat memegang peranan penting dalam perkembangan anak, sedangkan bakat pembawaannya bisa ditutup dengan serapat-rapatnya oleh pendidikan itu.
Teori tabula rasa ini diperkenalkan oleh John Locke untuk mengungkapkan pentingnya pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup terhadap perkembangan anak. Ketika dilahirkan, seorang anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan yang berasala dari lingkungan. Orang tua menjadi tokoh penting yang mengatur rangsangan-rangsangan dalam mengisi “secarik kertas” yang bersih ini.
            Aliran ini disebut juga dengan Sosiologisme, karena sepenuhnya mementingkan atau menekankan pengaruh dari luar. Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris terkenal dengan nama optimisme paedagogis. Kaum behavioris pun sependapat dengan kaum empiris. Seorang filsuf barat, Immanuel Kant, yang memberikan dukungan terhadap aliran ini, pernah mengemukakan, ”Manusia dapat menjadi manusia hanya karena pendidikan.”Demikianlah, betapa besar pengaruh teori ini, sehingga tidak sedikit ahli didik yang menganutnya. Jadi, kesimpulan aliran empirisme adalah perkembangan anak sepenuhnya tergantung pada faktor lingkungan; sedangkan faktor bakat, tidak ada pengaruhnya. Dasar pemikiran yang digunakan ialah bahwa pada waktu dilahirkan, anak dalam keadaan suci, bersih, seperti kertas putih yang belum ditulis, sehingga bisa ditulis menurut kehendak penulisnya.
2.3.3        Aliran Konvergensi
            Aliran ini pada intinya merupakan perpaduan antara pandangan nativisme dan empirisme, yang keduanya dipandang sangat berat sebelah. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama aliran konvergensi adalah Louis William Stern (1871-1938), seorang filsuf sekaligus sebagai psikolog Jerman. Aliran filsafat yang dipeloporinya disebut “personalisme”, sebuah pemikiran filosofis yang sangat berpengaruh terhadap disiplin ilmu yang berkaitan dengan manusia di antara disiplin ilmu yang menggunakan asas personalisme adalah “personologi”, yang mengembangkan teori yang komprehensif (luas dan lengkap) mengenai kepribadian manusia. Stern dan para pengikutnya, dalam menetapkan faktor yang memengaruhi perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor yang sama pentingnya itu. Faktor pembawaan tidak berarti apa-apa tanpa faktor pengalaman. Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor pembawaan tidak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan.
Perkembangan yang sehat akan berkembang jika kombinsai dari fasilitas yang diberikan oleh lingkungan dan potensialitas kodrati anak bisa mendorong berfungsinya segenap kemampuan anak. Dan kondisi sosial menjadi sangat tidak sehat apabila segala pengaruh lingkungan merusak, bahkan melumpuhkan potensi psiko-fisis anak. Pengaruh yang paling besar selama perkembangan anak pada lima tahun pertama ialah pengaruh orang tuanya. Pengaruh tersebut lebih mencolok lagi jika terjadi “salah bentuk” pada diri anak akibat “salah tindak” orang tuanya.
Dengan demikian, keadaan ini dapat dinyatakan bahwa faktor pembawaan maupun pengaruh lingkungan yang berdiri sendiri tidak dapat menentukan secara mutlak dan bukan satu-satunya faktor yang menentukan pribadi atau struktur kejiwaan seseorang.
Dari bermacam-macam istilah teori perkembangan seperti tersebut di atas, teori yang dikemukakan oleh Louis William Stern-lah yang merupakan teori yang dapat diterima oleh para ahli pada umumnya. Sehingga teori yang dikemukakan Louis William Stern merupakan salah satu hukum perkembangan individu di samping adanya hukum-hukum perkembangan yang lain.
            Di Indonesia sendiri, teori konvergensi inilah yang dapat diterima dan dijadikan pedoman seperti yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara:
“Tentang hubungan antara dasar dan keadaan ini menurut ilmu pendidikan ditetapkan adanya ‘konvergensi’ yang berarti bahwa kedua-duanya saling mempengaruhi, sehingga garis dasar keadaan itu selalu tarik-menarik dan akhirnya menjadi satu. Mengenai perlu tidaknya tuntutan di dalam tumbuhnya manusia, samalah keadaannya dengan soal perlu atau tidaknya pemeliharaan dalam tumbuhnya tanam-tanaman. Misalnya, kalau sebutir jagung yang baik pada dasarnya, jatuh pada tanah yang baik, banyak airnya dan mendapat sinar matahari, maka pemeliharaan dari bapak tani tentu akan menambah baiknya tanaman. Kalau tidak ada pemeliharaan dan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak mendapat sinar matahari atau kekurangan air, maka biji jagung itu walaupun pada dasarnya baik, namun tidak dapat tumbuh baik karena pengaruh keadaan. Sebaliknya, kalau sebutir jagung tidak baik dasarnya, akan tetapi ditanam dengan pemeliharaan yang sebaik-baiknya oleh bapak tani, maka biji itu akan dapat tumbuh lebih baik daripada biji lain-lainnya yang tidak baik dasarnya.”
            Jadi, baik faktor pembawaan (gen) dan lingkungan itu diperlukan bagi seseorang meski hanya sekedar ada di dunia. Faktor bawaan dan lingkungan bekerja sama untuk menghasilkan kecerdasan temperamen, tinggi badan, berat badan, kecakapan membaca, dan sebagainya. Tanpa gen, tidak akan ada perkembangan, tanpa lingkungan tidak ada pula perkembangan karena pengaruh lingkungan tergantung pada karakteristik genetik bawaan, jadi dapat kita katakan bahwa ke-2 faktor di atas saling berinteraksi.


BAB III
PENUTUP


3.1 Simpulan
            Perkembangan adalah perubahan kearah lebih maju dari sebelumnya. Dengan demikian perkembangan manusia akan terjadi dari saat terjadinya proses pembuahan semasih dalam kandungan sampai tua dan meninggal dunia baik secara biologis maupun psikologis. Dalam perkembangan individu, terdapat beberapa dua factor utama yang sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang individu, factor tersebut yaitu:

A.    Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang menjadi ciri khasnya.

B.     Faktor Lingkungan
            Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan lingkungan ”bio-fisiko-psiko-sosial” yang memepengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi :
1.      Faktor yang memepengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (faktor pranatal)
2.      Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal)
            Dalam teori psikologis faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dibedakan dan didukung oleh beberapa teri  dengen para penganutnya yang berbeda-beda. Ada beberapa aliran yang membahas mengenai perkembangan manusia diantaranya.
  1. Aliran Nativisme,
  2. Aliran Empirisme,
  3. Aliran  Konvergensi
3.2 Saran
            Perkembangan seorang anak juga tidak terlepas dari peran keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama yang merupakan modal utama bagi perkembangan anak kedepannya. Selanjutnya sekolah sebagai lembaga pendidikan kedua yang formal berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak dan mengembangkan potensi yang ada pada anak. Serta Masyarakat sebagai lembaga pendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya yang tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Jika dalam beberapa lingkungan tersebut dapat dikondisikan dengan semestinya tentunya akan banyak hal baik yang akan diperoleh anak dalam proses perkembangannya.


DAFTAR PUSTAKA

Gito, Choko. 2009. Teori-teori Terkait Perkembangan Anak. http://chokogitho.      blogspot.com   /2009/07/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html (diakses      tanggal 29 Maret 2012)
Griadhi, Chakra. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Singaraja: UD Bali Warna.
Husdarta dan Yudha M. Saputra. 2000. Perkembangna Peserta Didik.Jakarta:       Direktorat Jendral Pendidkan dasar dan Menengah
Meutia, Nadia. 2011. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Individu         http://edukasi.Com.faktor-yang-berpengaruh-dalam –perkembangan-individu/              (diakses tanggal 29 Maret 2012)
Muharom. 2011. Faktor-faktot yang Mempengaruhi Perkembangan Anak.             http://muharom.blog.upi.edu/2011/06/13/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-           perkembangan/ (diakses tanggal 29 Mare 2012)






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar